Dari Iseng-Iseng Menjadi Bisnis

“Ah, pantas saja bisnis kamu lancar, kamu kan udah tau ilmunya.”

“Ah, pantas saja bisnis kamu lancar, orang tuamu juga kan pebisnis.”

“Ah, pantas saja bisnis kamu lancar, kamu banyak kenalan, banyak relasi.”

“Ah, pantas saja bisnis kamu lancar, kamu pinter bicara dan lobi orang.”

….dan banyak lagi.

 

Siapa bilang memulai bisnis harus selalu memikirkan matang-matang konsepnya dan menguasai ilmu bisnis? Siapa bilang pebisnis harus bisa ini itu serba bisa layakya avatar?

Memang benar, konsep bisnis itu perlu. Tapi bagi kamu yang tidak ada basic bisnis, bukan dari keluarga bisnis, tidak mengenyam pendidikan bisnis, pasti akan sangat kebingungan untuk memulai membuat konsep bisnis. Kamu akan membandingkan diri dengan teman-temanmu yang sudah lebih dulu memiliki ilmu bisnis dan menyesali kenapa kamu tidak masuk sekolah bisnis. Kalau kamu masuk sekolah bisnis, tentu kamu akan lebih banyak belajar mengasah naluri bisnis dan juga manajemen bisnismu. Belum mulai saja sudah pusing duluan memikirkan konsep bisnis yang ideal dan menghasilkan.

Kabar baik untuk kalian yang tidak ada basic ilmu bisnis namun sangat bersemangat untuk memulai bisnis! Karena bisnis nggak perlu konsep yang terlalu matang. Kalau terlalu matang, kamu nggak akan merasakan kerasnya dan betapa berharganya pengalaman. Nyatanya, banyak kisah pebisnis yang bermula dari iseng-iseng hingga menjadi bisnis besar. Contohnya sana Ahmad Zaky CEO Bukalapak, beliau memulai bisnisnya dari sebuah kamar kos dan menawarkan produk digitalnya kepada pedagang-pedagang kecil. Tak jarang juga ia mendapat nyinyiran seperti netizen ‘zaman now’ dari pedagang-pedagang yang ingin ia ajak kerja sama.

Kok bisa melakukan bisnis tanpa memikirkan matang-matang konsep dan langkah-langkah ke depannya? Memangnya tidak takut rugi?

Bukan bohong jika tidak takut rugi, tapi rasa takut rugi itu kalah dengan perasaan: takut menyesal kalau takut memulai.

Ada kalimat bahwa jika kamu mengalami takut dan khawatir untuk memulai bisnis, berarti kamu di jalan yang benar. Tidak ada orang yang tidak takut dan khawatir untuk memulai sesuatu yang baru dan berisiko. Namun yang membedakan mental pebisnis adalah kamu mampu mengubah rasa takut tersebut untuk menjadi motor semangat dan motivasi untuk terus berjalan dan menghadapi segala rintangan yang ada.

Hal yang perlu kamu coba berbisnis adalah MENCOBA. Kamu tidak akan tau kalau tidak mencoba. Coba jalani dan realisasikan imajinasi dalam kepalamu. Jangan biarkan imajinasi hanya menjadi imajinasi. Tidak ada yang tau, tangan Tuhan mana yang akan membawamu merealisasikan mimpi-mimpi dalam kepalamu. Setelah MENCOBA, kamu wajib BAHAGIA. Bisnis yang dibangun dengan ketidakbahagiaan tidak akan menghasilkan sesuatu yang ‘ajaib’.

Brambang Jarene juga dimulai dengan mencoba. Saya tidak bilang bahwa bisnis ini sudah sukses, paling tidak saya menjalaninya dengan bahagia.

Berawal dari kegemaran suami makan bawang goreng, akhirnya saya diminta mertua untuk belajar bikin bawang goreng. Setiap hari saya selalu bikin bekal untuk suami, tentunya dengan sebungkus plastik kecil bawang goreng. Begitu pula saya, bawa bekal ke kantor dan membawa bawang goreng. Teman-teman kantor ikut menyicip, ternyata mereka suka. Kebetulan saat itu harga bawang sedang murah, petani sedang panen besar tapi dibeli murah oleh tengkulak dan pemerintah. Dengan basic ilmu pengembangan masyarakat saat menempuh S1, naluri keberpihakan kepada petani dan masyarakat marjinal pun muncul.

Sejak SMP saya sudah bercita-cita menjadi pengusaha. Padahal orang tua bukan pebisnis dan saya pun sejak dulu pemalu, takut bicara depan umum, jarang menjadi pusat perhatian, selalu gugup bicara depan umum. Pernah juga saya diremehkan orang tentang karakter diri dan cinta-cita saya. Namun saya tetap menggenggam cita-cita saya untuk berwirausaha, untuk membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang kesulitan meraih ijazah sekolah formal. Ditambah lagi saya kuliah di kampus yang mengedepankan kewirausahaan. Terutama wirausaha di bidang pertanian. Dari situlah saya tercetus ide untuk mencoba memulai bisnis bawang goreng. Saya beli beberapa kilo bawang merah mentah jenis dari sumenep di pasar tradisional di Cirebon. Lalu saya bawa ke Jakarta, tempat saya tinggal sekarang.

Pada awalnya, untuk memproduksi hanya 2 toples bawang goreng saja memakan waktu berjam-jam. Saya selesai produksi setiap harinya bisa selalu sampai jam 2 pagi. Karena masih mengupas, mengiris,  menggoreng, dan meniriskan minyak secara manual. Tapi saya senang sehingga rasa lelah pun terkalahkan. Paginya bangun, masak simple untuk bekal, dan berangkat ke kantor.

Mendapat respon semakin positif dari lingkar pertemanan, akhirnya saya memberanikan untuk serius membuat logo, mencari toples yang sesuai dan berkualitas, dan merekrut seorang ‘pegawai’ yang membantu saya produksi. Saat itu mulai pesanan meningkat 5 toples per hari. Ibu yang bantu akan mengupas bawang sembari saya menggoreng.

Saat permintaan sudah mencapai 10 toples per hari, saya rasa sudah tidak efektif meniriskan di atas kertas tissue. Selain nyampah, juga minyak yang terserap tidak terlalu banyak sehingga bawang goreng masih terlihat berminyak. Akhirnya saya memberanikan diri membeli mesin peniris minyak.

Alhamdulillah, orderan semakin meningkat, bisa sampai 20 toples per botol. Saya juga mulai memperbaiki kualitas packaging dan mencoba cara-cara marketing lain.

Jadi, untuk kalian yang sedang berjuang berusaha merintis bisnis, ayo kita jalan bareng-bareng, cari ilmu bareng-bareng. Belajar berani bareng-bareng. Ingat selalu, ketika kita jatuh, selalu ada bumi untuk bersujud, dan selalu ada tangan yang terulur dari Yang Maha Esa untuk membuat kita bangkit kembali.

(F/D) Editor : N.

Facebook Comments
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here