Iklan yang sukses, apakah harus luas atau sering?

Di dunia periklanan, Anda tentu terbiasa mendengar istilah reach dan frequency. Reach adalah kemampuan satu iklan untuk dilihat sejumlah orang atau rumah tangga dalam satu periode tertentu. Orang dan rumah tangga adalah “unik”, maksudnya bukan orang yang sama. Sementara frequency adalah berapa kali orang atau rumah tangga yang sama melihat satu iklan dalam satu periode tertentu.

Baca Juga : Peta E-Commerce Indonesia 2018

Biasanya pada saat media buying. Pengiklan, ya bisa jadi itu Anda, bingung bukan main. Selain bingung memilih media media yang mana, hal lain yang harus dipikirkan adalah harus pasang di mana saja dan berapa kali. Ini bukan perkara mudah lantaran keputusan reach dan frequency akan berpengaruh ke budget marketing Anda. Anda tentu tahu untuk satu slot iklan di televise nasional mahalnya bukan main, bisa mencapai sekitar 10 – 15 juta untuk 15 – 30 detik satu kali penayangan. Jika ambil 3 slot setiap hari selama 2 bulan, Anda sudah menghabiskan minimal 1,8 miliar. Itu baru dari televisi saja.

Demi melakukan efisiensi budget, sering kali pengiklan mengorbankan salah satu dari reach atau frequency. Dan, itu memang pilihan yang cukup beralasan. Karena kedua hal ini sifatnya tidak linear. Sebelum mencapai target jumlah audiensi tertentu, reach lebih tepat untuk difokuskan dibanding frequency. Namun, jika target jumlah sudah tercapai, reach harus perlahan-lahan menurun digantikan dengan frekuensi kemunculan iklan yang lebih intensif.
Walaupun memutuskan fokus iklan Anda tidak mudah, namun reach dan frequency merupakan dua hal yang sama pentingnya.

Source : Marketeers

Facebook Comments
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here