Banyak bermunculan startup baru yang berhasil namun juga tidak sedikit startup yang gagal, kenapa gagal? karena bisa karena tidak dilanjutkan, karena kurangnya kebutuhan, dan banyak faktor yang lainnya, gagal disini saya artikan sebagai tidak ada niat untuk meneruskan lagi.

Berikut merupakan faktor terbanyak dalam kegagalan startup versi catatan nahrowi,

1. Team

Bagi kami kegagalan startup yang paling sering dan riskan team, membangun sesuatu pada kenyataanya tidaklah mudah, apalagi menyatukan beberapa pemikiran dalam satu visi dan suara, satu sama lain haruslah saling melengkapi untuk keberhasilan bersama.

[caption id="attachment_1316" align="aligncenter" width="535"] via onedio[/caption]

Namun tidak bisa dipungkiri, beberapa startup membentuk team secara prematur, asalkan bisa ini dan itu maka buatlah suatu team, padahal dalam startup dan dunia entrepreneurship disini, startup adalah sebuah senyawa, yang mana team adalah seorang keluarga, lebih dari itu mereka yang bisa saling menerima satu sama lain, berani bermimpi bersama, berjuang bersama, sampai jatuh bersama. Dalam team saling menyemangati adalah kunci, sehingga saling membantu dalam membangun inilah yang menguatkan.

2. VISI

Visi merupakan tujuan akhir yang harus bisa dijelaskan dengan cepat dan mudah dipahami, jika belum artinya visinya belum jelas. memang, untuk sampai ketahap itu tidak mudah juga, butuh proses menyederhanakan dari hal rumit kedalam suatu hal sederhana, hal tersebut juga untuk membantu membagikannya kepada team yang lainnya.

[caption id="attachment_1317" align="aligncenter" width="700"] via Sylvain Liege[/caption]

Namun yang menyebabkan banyak anggota team terkadang tidak melanjutkan perjuangan atau keluar dari team adalah visi. visi memang harus dibuat seperti sebuah tujuan, saya mau ke kota A dalam waktu berapa hari? Namun ada yang lebih penting dari itu, untuk membangkitkan semangat team satu sama lainnya visi saja tidak cukup, visi harus memiliki banyak aspek, salah satunya visi dan dampak bagi sosial, bagi rohani, bagi jasmani, bagi finansial, kesejahteraan, bagi waktu dan cinta.

Sehingga apabila dalam satu team yang sedang dalam visi tersebut tidak menemukan salah satu aspek tersebut, maka dia akan bertanya-tanya, bahkan ketika jawabannya tidak ada maka dia akan mencari team lainnya. Disitulah mulai kegagalan startup dengan keluarnya anggota team.

Kenapa? sebut saja, mereka sedang mencari tentang apakah dengan saya melakukan pekerjaan terbaik distartup ini saya mendapakan nilai kebaikan dan membantu orang lain, sedankan disisi lainnya startup ini hanya tentang mengejar profit dan finansial. dari situ anggota team juga sudah mulai bertanya, berarti disini saya tidak bisa mendapatkan alasan berbuat baik kepada banyak orang ya? nah, ketika jawaban itu tidak ada itu menjadi salah satu alasan anggota team pergi dari startup anda.

Untuk itu, dalam pembuatan visi memang harus menyangkut beberapa aspek, sosial finansial, membantu orang lain dan juga visi yang menunjukkan tujuan akhir yang jelas untuk masa depan startup ini nanti seperti apa dalam waktu kapan.

3. Ketidakmampuan Membagikan Visi

Bagi seorang leader atau lebih sering kita sebut founder, dialah yang merupakan penemu, penggagas ide startup tersebut. otomatis dia yang memiliki visi, arah, sehingga alasan kenapa ini dibuat hingga kemana arah dan tujuan akhirnya. Ini juga tidak mudah, dalam menyampaikan visi terkadang para founder memang sudah memiliki visi yang sempurna, namun ketika sudah disampaikan ke team, belum tentu team sepaham dengan visi tersebut, karena visi masih dalam bentuk imajinasi dan pemikiran, tentunya butuh suatu media atau canvas untuk melukiskan mimpi dan visi itu, agar satu sama lainnya bisa memahami maksut dan tujuan akhir dari startup yang akan dibuat..

4. Finansial

Ini yang paling penting, yang paling menyebabkan banyak anggota team, pegawai, keluar dari suatu perusahaan startup. tidak bisa dipungkiri, banyak lulusan baru perkuliahan tidak mau bertaruh waktu dengan startup yang baru dan tidak punya dompet yang tebal kan? tidak semua orang punya jiwa entrepreneur, sebagai owner anda harus paham itu.

[caption id="attachment_1314" align="aligncenter" width="1000"] via trentech[/caption]

Mereka memang punya semangat entrepreneur yang tinggi, karena mereka masih muda dan punya semangat berkarya, hanya saja ketika mereka dipertanyakan dengan masalah keuangan misalnya; Apakah kamu mau tidak saya gaji untuk membangun startup ini?

Belum tentu dari 100 kandidat ada yang mau, kecuali memang sudah punya pondasi yang bagus, namun jika kasusnya ini startup sama-sama perusahaan baru. maka pasti banyak sekali yang berkata, saya cari perusahaan lain saja yang bisa menggaji saya mahal.

Faktanya seperti itu, kenapa? karena memang ingin berkarya dan dibayar, belum menjadi real entrepreneur dari 0, untuk itulah sebagai owner startup, tentunya visi aspek keuangan, terutama bagian pengelolaan keuangan dan darimana mendapatkan keuntungan sangatlah penting. Faktanya tanpa itu berbagai biaya operasional juga tidak akan berjalan, termasuk biaya untuk menghidupi team dan startup itu sendiri.

Dan yang bisa dipelajari dari studi kasus ini adalah, visi sangat penting untuk arah dan tujuan startup, sedangkan untuk pondasi yang tak kalah penting adalah tentang pendanaan yang akan menjadikan visi itu hidup, dana itupun juga tidak boleh konyol, tanpa manajemen keuangan yang baik, startup akan membelanjakan uangnya tanpa tahu kapan kembali modal, lebih baik mengetahuai darimana sumber dana dan sumber pengghasilan, selebihnya menetukan visi dan mimpi.

Sehingga ketika visi itu dibangun, sudah serta merta tahu darimana keuntungan dari startup yang akan dibangun kedepannya ini. Dan yanf terpenting visi mencakup semua aspek tersebut.

Salam, sukses selalu :) CM/N

 

 

Facebook Comments
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here