Kepribadian Utsman Bin Affan dan Infak Utsman di Jalan Allah
Oleh␣ Hanifah|Telah Terbit 2018
Utsman turut serta dalam semua peperangan bersama Rasulullah saw, kecuali perang Badar seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Merujuk pada kepribadian Utsman bin Affan yang tidak pernah terlambat sesaat pun untuk berkorban dan berbagi demi pengabdian terhadap agama nan agung ini. Utsman bin Affan adalah sosok pribadi yang ksatria di medan kedermawanan, kemurahan hati dan infak, karena ia menggunakan seluruh harta benda yang ia punya untuk pengabdian terhadap Islam dan kaum muslimin sejak ia maşuk Islam hingga meninggal dunia.

Berikut gambaran pertama kepribadian Utsman bin Affan ra. yang dermawanan dan murah hati. Saat para sahabat Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, mereka mengeluhkan minimnya persediaan air tawar di Madinah. Sumur paling tawar adalah sumur milik seorang Yahudi. Ia menjual air sumur tersebut kepada kaum muslimin dengan harga yang cukup mahal. Sumur ini bernama sumur Raumah, Rasulullah saw; kemudian berkata, “Siapa yang mau membeli sumur Raumah untuk kami, don ia akan mendapatkan surga’.

Utsman langsung pergi menemui Yahudi tersebut dan memintanya untuk menjual sumur Raumah. Si Yahudi hanya mau menjual separuh sumur tersebut kepada Utsman. Itupun dengan harga 12 ribu dirham, harga yang terlalu mahal. Utsman kemudian pergi, lalu setelah itu membawakan uang tersebut dan menyerahkannya kepada si Yahudi untuk membeli separuh sumur miliknya, dengan syarat; sumur tersebut sehari untuk kaum muslimin, dan sehari untuknya.

Pada hari jatah kaum muslimin, kaum muslimin meminum dan menyimpan air untuk keperluan keesokan harinya, sehingga si Yahudi itu tidak memiliki persediaan air untuk ia jual pada hari berikutnya. Akhirnya, ia terpaksa menjual separuh sisanya kepada Utsman dengan harga delapan ribu dirham, sehingga sumur tersebut murni menjadi milik kaum muslimin. Mereka bisa meminum air tawar sumur tersebut kapanpun mereka mau. Maka disebutlah sumur ini menjadi sumur Utsman bin Affan.

Berikut gambaran kedua kepribadian Utsman bin Affan ra. yang dermawanan dan murah hati. Ketika Nabi meminta kaum muslimin mengeluarkan infak guna perluasan area masjid, beliau berkata, “Siapa yang mau memperluas masjid kami ini, dan ia akan mendapatkan surga’. Utsman langsung membeli tanah di sebelah masjid seharga 20 ribu dirham dan digabungkan dengan area masjid.

Berikut gambaran ketiga kepribadian Utsman bin Affan ra. yang dermawanan dan murah hati. Nabi menyerukan para sahabat untuk mempersiapkan keperluan pasukan masa sulit yang hendak berangkat untuk perang melawan Romawi di Tabuk, daulah terbesar kala itu. Umar bin Khattab ra. datang membawa separuh harta miliknya, sementara Abu Bakar ra. datang membawa seluruh harta miliknya. Nabi kemudian bertanya padanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Aku sisakan Allah dan RasuI-Nya untuk mereka’.”

Nabi berdiri menyampaikan khutbah mendorong orang-orang bersedekah. Utsman datang lalu berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya yang menanggung seratus ekor unta lengkap dengan seluruh perlengkapannya.’

Setelah itu Nabi berkhutbah, Utsman kembali datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya yang menanggung seratus ekor unta lagi.’ Pada kali ketiga, Utsman datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya yang menanggung seratus ekor unta lagi.’ Pada kali keempat, Utsman datang dan meletakkan uang seribu dinar dalam pangkuan beliau. Beliau kemudian berkata : “Tidaklah membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini, tidaklah memba hayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini.’

Setelah itu beliau berdoa, ‘Ya Allah! Sore ini aku meridhai Utsman, maka ridhailah dia’.”

Gambaran keempat kepribadian Utsman bin Affan ra. yang dermawanan dan murah hati. Selepas haji Wada’, Rasulullah memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan dengan sasaran kabilah-kabilah yang berdekatan dengan wilayah Romawi. Utsman kemudian datang membawa 149 ekor unta lengkap dengan bawaannya, lalu setelah itu ia datang membawa 60 ekor kuda. Hanya saja Rasulullah jatuh sakit dan sakit beliau kian parah. Pasukan terpaksa harus menunggu; dan baru berangkat setelah Rasulullah wafat.

Gambaran kelima kepribadian Utsman bin Affan ra. yang dermawanan infaknya. Setelah Nabi wafat, terjadi paceklik hebat pada masa Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata kepada mereka, “Sebelum esok sore, insya Allah kelapangan dari sisi Allah akan datang kepada kalian.’

Keesokan harinya, kafilah besar milik Utsman datang dengan membawa berbagai jenis makanan. Para pedagang menghampiri Utsman dan berkata, ‘Kami bersedia membayar harganya.’ ‘Tidak,’ sahut Utsman. ‘Kalau begitu, kami bersedia membayar dua kali lipat harganya,’ kata mereka. ‘Tidak,’ sahut Utsman. ‘Kalau begitu, kami bersedia membayar lima kali lipat harganya. Di kawasan Jazirah Arab, kami tidak mengetahui seorang pedagang pun yang memberikan harga sebanyak itu,’ kata mereka. ‘Tapi ada yang bersedia memberiku sepuluh kali lipat harganya, dan aku sudah menjual barang-barangku kepadanya,’ kata Utsman. ‘Kamu menjualnya pada siapa?’ tanya mereka. ‘Aku menjualnya kepada Allah yang membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Aku menyedekahkan kafilah ini kepada pada kaum fakir Madinah tanpa sepeser pun harga,” kata Utsman.

Setiap Jumat, Utsman Memerdekakan Seorang Budak
Sumbangan yang diberikan Utsman tidak hanya sebatas mempersiapkan keperluan pasukan masa sulit atau menggali sumur Raumah saja, tapi ia selalu membantu setiap muslim dalam kesulitan yang dihadapi, dan membantu mengatasi kemiskinannya.

Selalu seia-sekata dengan kata hati sepanjang hidup. Setiap Jumat, ia memerdekakan seorang budak dengan membelinya dari tuannya, berapa pun harganya, lalu setelah itu ia merdekakan demi mencari ridha Allah.

Kepribadian Utsman bin Affan yang Pemalu
Utsman berada di puncak sifat malu, sampai-sampai Nabi saw, berkata tentangnya, “Umatku yang paling pemalu adalah Utsman bin Affan.” Ibunda kita, Aisyah ra, mengisahkan sebuah kejadian aneh. Ia menuturkan, “Suatu ketika Rasulullah berbaring di kediamanku dengan kedua paha atau betisnya tersingkap. Abu Bakar kemudian datang meminta izin masuk, beliau mempersilahkan Abu Bakar masuk sementara Nabi tetap dalam kondisi seperti itu. Abu Bakar kemudian berbicara. Setelah itu Umar datang meminta izin masuk, beliau mempersilahkan Umar masuk sementara Nabi tetap dalam kondisi seperti itu. Umar kemudian berbicara. Setelah itu Utsman meminta izin masuk, beliau kemudian duduk dan membenarkan pakaian beliau, setelah itu mempersilahkan Utsman masuk, setelah itu Utsman masuk kemudian berbicara.

Setelah Utsman keluar, Aisyah berkata, ‘Saat Abu Bakar masuk, kamu biasa-biasa saja menyambutnya dan tidak peduli, setelah itu Umar masuk, kamu pun biasa-biasa saja menyambutnya dan tidak peduli, namun saat Utsman masuk, kamu duduk dan membenarkan baju!’ beliau berkata, ‘Tidakkah aku malu pada seseorang yang malaikat pun merasa malu padanya’

Hasan Al-Bashri menuturkan tentang Utsman, “Utsman berada di rumah seorang diri tanpa disertai siapapun, pintu tertutup. Namun ia tidak mau melepaskan pakaian saat hendak menuangkan air pada tubuhnya. Rasa malu mencegahnya menanggalkan pakaian.”

Souce : aihanifah.com

Facebook Comments
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here