Seorang rekan di kantor kami pernah bercerita tentang pengamatannya terhadap dua orang rekannya di perusahaan tempat ia bekerja. Hasil pengamatan ini sungguh menarik untuk dicermati sebagai studi kasus nyata, untuk diambil hikmahnya.

Agung dan Bram adalah dua orang fresh graduate dari dua universitas di dalam negeri yang berlainan. Agung lulusan dari PTN ternama dengan disiplin ilmu yang jadi unggulan dialmamaternya, dan prestasinya memang baik sekali. Wajar sekali jika Agung bangga dengan prestasi akademisnya. Bram sendiri meski tidak segemerlap almamaternya tetapi sesungguhnya prestasi akademiknya hanya beda tipis di bawah Agung.

Kebetulan keduanya memulai hari pertama dalam perjalanan karirnya di perusahaan yang sama, departemen yang sama, tanggung jawab yang kurang lebih sama dan bahkan memulainya pada minggu yang sama pula. Yang berbeda hanyalah divisi tempat bekerja dan kick-off day-nya saja. Kesamaan titik start dan tanggung jawab ini, yang memang benar-benar terjadi, sungguh merupakan kebetulan yang memudahkan kita dalam melakukan analisis.

Keunggulan prestasi akademis Agung ternyata sukses ditransformasikan ke dalam pekerjaannya. Ia berhasil mendapatkan ”proyek cokelat”, kategori proyek yang di lingkungan kerjanya tergolong proyek besar, wah, dan prestisius. Proyek yang manis dan dimaui semua orang.

Suksesnya dalam mendapatkan proyek coklat ini ditindaklanjuti dengan penanganan yang prima, baik secara teknis maupun non teknis, sehingga klien benar-benar puas. Hubungan baik yang terjalin dan kepuasan atas pekerjaan menimbulkan kepercayaan yang tinggi dari klien kepada perusahaan ini dan lebih khusus lagi kepada  Agung. Hal ini membuat klien tersebut tidak bisa pindah ke lain hati.

Dapat ditebak, loyalitas klien dengan proyek cokelat yang berulang ini tentu memuaskan manajemen perusahaan tempat Agung bekerja. Berhubung perusahaan tempatnya bekerja memiliki sistem reward yang baik, maka dengan mulus Agung pun mendapat ganjaran yang setimpal. Ia dipromosikan menjadi senior di usianya yang masih muda. Promosi ini juga berimbas pada gajinya yang meningkat secara signifikan. The rising star sudah menunjukkan sinarnya.

Di saat Agung mendapatkan promosinya, mari kita tengok apa kabar Bram? Boleh dikata, Bram belum seberuntung Agung. Dalam jenjang struktur organisasi, Bram masih belum beranjak dari posisinya di saat start. Berarti, satu langkah Bram telah tertinggal dari Agung yang hari pertamanya bekerja hanya berbeda dalam hitungan jari pada satu tangan. Apakah berarti Bram tidak bisa bekerja dengan baik?

Kenyataan di lapangan menyatakan bahwa Bram bekerja dengan baik. Klien (eksternal) maupun teman sejawat nyaris tidak pernah ada yang mencela terhadap hasil maupun proses kerja yang dilakukan Bram. Sebagai pekerja, Bram adalah pekerja yang tekun. Dalam kata lain, tidak ada masalah dengan kinerja Bram. Apalagi Bram merupakan tipe orang yang luwes dan supel dalam bergaul serta memiliki artikulasi yang baik dalam berkomunikasi.

Dalam setiap evaluasi penilaian kinerja (performance appraisal), Bram selama ini memang selalu tertinggal dari Agung, tetapi bukan berarti ada masalah pada diri Bram. Hal ini terjadi hanya karena Agung selama ini secara luar biasa menunjukkan kinerja yang excellent dan Bram dengan prestasinya yang sekedar ’baik’ tertutup pamornya.

Baca Juga : Membangun Mindset Kerja Happy dari Chade-Meng Tan Insinyur dan Motivator Google

Pada saat Agung menanjak karirnya, Bram masih tertinggal. Lantas bagaimana kondisinya tiga tahun kemudian, apakah masih tertinggal di belakang Agung? Ternyata tidak, pencapaian karir Bram justru sudah melampaui pencapaian karir Agung. Kenapa bisa demikian? Berkaca pada Agung, Bram sadar diri bahwa secara teknis kemampuannya bukan yang terhebat. Untuk itu ia mengembangkan sisi lain kemampuannya, terutama bagian soft-nya. Keluwesan dan kemampuan interpersonal Bram yang disertai cukup kerendah-hatian menjadikannya lancar dalam pergaulan.

Ia juga memahami denyut ritme dan irama kehidupan di lingkungan kerjanya, termasuk mengetahui kemana angin bertiup. Berbeda dengan Agung yang cenderung kaku, dengan pemahaman dan keluwesan ini Bram dapat secara leluasa menempatkan diri.

Dengan demikian ia dapat sukses membangun jejaring dan melakukan lobbying. Seiring berjalannya waktu, pada saat Agung mencapai posisi manajer, Bram sudah dapat menduduki posisi senior manajer.Dengan pencapaian ini seolah ada pesan tidak langsung yang hendak disampaikannya pada Agung, ”Sorry Gung, hari gini skill saja tidak cukup!

Diringkas dari cerita : Skill Saja Tidak Cukup by A. B. Susanto*
Sumber:http://www.jakartaconsulting.com/art-13-18.htm

Facebook Comments
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here