Beberapa waktu lalu kita dihadapkan dengan issue mengenai kebocoran data dalam sebuah aplikasi penting yang memuat data banyak orang, sebenarnya hal itu mungkin bagi seorang praktisi hacker adalah lazim ditemui, beberapa expert hacker sepakat bahwa “no system is safe”, tidak ada sistem apapun yang aman, sehingga “KLAIM” bahwa sistem ini AMAN. bisa jadi pertanyaan, tapi..itu dari kacamata praktisi hacker. lalu bagaimana hubungan dengan konsep marketingnya?
Pada dasarnya semua aplikasi, product, digital dan layanan apapun adalah untuk memenuhi sebuah kebutuhan market pun menjadi sebuah solusi untuk permasalahan. coba kembali ke awal, aplikasi yang bertugas untuk membantu regulasi memetakan, persebaran sebuah data dari wilayah ke wilayah lain dan terdesentralisasi dengan teknologi big data dibaliknya apakah kurang canggih? biasanya, semua teknologi adobsi dari luar negeri, jauh sebelum ini masuk ke indonesia dan dikabarkan oleh banyak MEDIA, bahwa semua regulasi, masuk kegiatan kantor dan semuanya harus menggunakan ID berbasis NIK ini. teknologi ini sudah ada 1,2 tahun sebelum indonesia heboh dengan aplikasi ini. tepatnya dijerman kalau tidak salah, mereka menerapkan sistem geomapping, untuk melacak, sistem yang berbasis radar ini sebenernya mirip dengan teknologi pada iphone, android, termasuk google maps. ingatkah kita dengan aplikasi wazze? yang dia bisa tahu disebuah jalan apakah macet apa tidak dan disempurnakan oleh google maps, dengan memanfaatkan teknologi satelit. jika teknologi mobil tersebut bisa terbaca oleh aplikasi wazze atau google maps, maka aplikasi yang heboh diindonesia ini menggunakan data pribadi NIK. apakah itu melanggak hak interpersonal data dalam teknologi siber?
hmmm…..
Dulu, mungkin kita takut bahwa jika data kita tersebar diinternet, termasuk hal-hal seperti KTP, kartu ATM dll. tapi semakin kesini, peranan marketing branding mengenai bahwa semua AMAN menjadi BIAS, kenapa? beberapa orang yang bergerak dalam influence mereka hanya bertugas untuk mengenalkan bahwa PRODUCT, APLIKASI, itu baik, bagus dan tidak ada kelemahan. tapi jika saya melihat dari sisi tech product, sistem tersebut punya kelemahan, bahwa sistem apapun dan hal yang paling riskan adalah DATA.
Pertanyaanya, apakah semua teknologi tersebut 100% ada diindonesia? dengan SDM indonesia? dibalik layar sebuah aplikasi ada sistem login, setiap administrator utama bisa login, dan mereka bisa lihat data siapapun, dimanapun dengan sekali ENTER. sangat mudah untuk melihat siapa, NIK, usia, dimana lokasi dan kemana saja mereka bepergian. Dalam marketing, data ini sangatlah SEKSI, karena mereka bisa benar-benar tepat untuk melihat siapa CUSTOMER mereka.
Saya berharap, semoga semua data itu aman, tapi kembali lagi masyarakat masih sangat kurang dengan edukasi berbasis keamanan data dan teknologi, beberapa hal melihat hal itu sudah wajar dan biasa saja, tapi bagi sebagian entitas data itu adalah EMAS bagi mereka. Terkadang jika banyak orang berkata itu BENAR, ditambah dengan banyaknya peranan media, influencer yang berkata itu BENAR, kebanyakan orang akan berkata itu benar, sedangkan jika dirunut dari kacamata ilmu pengetahuan, bisa jadi belum tentu.
#catatannahrowi








![Isi Pidato Steve Jobs di Stanford University [Full Teks]](https://catatan.nahrowi.com/wp-content/uploads/2021/07/m-nahrowi-pidato-steve-jobs-120x86.jpg)

![Download Peta Ekosistem Industri Game Indonesia 2021-2022 [PDF]](https://catatan.nahrowi.com/wp-content/uploads/2022/07/Peta-Ekosistem-Industri-Game-Indonesia-2021-M-Nahrowi-ok-120x86.jpg)











